LBH Matasiri didirikan pada tanggal 7 Maret 2022 di Jakarta Timur sebagai merespons atas sengketa hak ulayat di dataran negeri Pelauw, Matasiri yang berimplikasi pada konflik sosial antar negeri tetangga.
Konflik tersebut mendorong para advokat Matasiri seperti M Husein Tuasikal, SH, Syarif Hasan Salampessy, SH, MH, M Nashir Tuasikal, SH, Samang Talaohu, SH, MH, Zulkifli Latuconsina, SH, MH, Ahmad Talaohu, SH (alm), Abdul Haji Talaohu, SH, Ecy Tuasikal, SH, MH, dan M. Mirzal Latuconsina, SHi untuk mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum sebagai wadah perjuangan bersama.
LBH Matasiri akhirnya lahir sebagai wadah perjuangan bagi para advokat Matasiri bersifat mandiri, bebas merdeka, bertanggung jawab, serta mengemban misi luhur para advokat Indonesia yang penuh integritas.
LBH Matasiri adalah lembaga bantuan hukum tidak hanya bagi masyarakat adat Matasiri, namun juga terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia, dan warga negara asing yang berkedudukan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam perkembangan kekinian, LBH Matasiri bertujuan untuk menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan serta meningkatkan kualitas profesi advokat Matasiri, meningkatkan kesadaran hukum dan memberdayakan anggota masyarakat adat Negeri Matasiri dalam Negara Hukum Indonesia. Oleh karena itu, LBH Matasiri akan menggunakan langkah-langkah advokasi, non litigasi maupun litigasi yang berkaitan dengan persoalan hukum negara serta demi kepentingan hukum masyarakat adat negeri Matasiri.
Yang dapat menjadi Anggota LBH Matasiri adalah setiap advokat Matasiri, maupun yang bukan advokat Matasiri, serta masyarakat adat negeri Matasiri yang memiliki pengetahuan hukum yang memadai namunsepakat untuk mengutamakan kepentingan negeri adat Matasiri, serta secara suka rela mengikatkan diri dalam lembaga.